Al Qur'an

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Al Hadits

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Khutbah & Ceramah

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kisah Inspiratif

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Seputar Islam

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Ceramah Islam. Show all posts
Showing posts with label Ceramah Islam. Show all posts

May 31, 2013

Berburu Do’a Mustajab di Hari Jum’at

Sebaik-baik hari bagi umat Islam adalah hari Jum’at. Hari sayyidul ayyaam (pemimpin hari) yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Ta’ala. Banyak ibadah yang dikhususkan pada hari itu, misalnya membaca surat as Sajdah dan al Insan saat pagi setelah shalat Subuh, membaca surat al Kahfi, shalat Jum’at berikut amalan-amalan yang mengirinya, dan beberapa amal ibadah lainnya. Di dalamnya juga terdapat satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Tidaklah seorang hamba yang beriman memunajatkan do’a kepada Rabbnya pada waktu itu, kecuali  Allah akan mengabulkannya selama tidak meminta yang haram. Karenanya seorang muslim selayaknya memperhatikan hari Jum’at.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radliyallah ‘anhu, dia bercerita: “Abu Qasim (Rasululah) shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:
إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Sesungguhnya pada hari Jum’at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, yang kami pahami, untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat).” (Muttafaq ‘Alaih)

Dalam memahami satu waktu yang mustajab (dikabulkannya doa) tersebut, para ulama berbeda pendapat, kapan waktu itu berlangsung? Ilmu tentang kepastiannya seperti ilmu tentang kepastian waktu Lailatul Qadar, telah diangkat ilmunya oleh Allah.

“Sesungguhnya pada hari Jum’at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya.” al Hadits

Diriwayatkan, dari Sa’id bin Al Harits, dari Abu Salamah berkata, “aku menyampaikan kepada Abu Sa’id, ‘sesungguhnya Abu Hurairah menyampaikan kepada kami perilah satu waktu yang ada di hari Jum’at.’ Beliau berkata, ‘Aku pernah menanyakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau menjawab, “Sungguh aku dulu diberitahu tentangnya kemudian aku dijadikan lupa sebagaimana dijadikan lupa terhadap Lailatul Qadar.” ( HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

Ibnul Hajar dalam Fath al Baari (II/416-421) menyebutkan ada 43 pendapat di antara para ulama mengenai suatu waktu yang terdapat pada hari Jum’at itu. Lalu beliau berkata, “tidak diragukan lagi bahwa pendapat yang paling rajih (kuat) adalah hadits Abu Musa dan hadits Abdullah bin Salam . . . , namun para ulama salaf masih berbeda pendapat manakah dari keduanya yang lebih rajih.” Selanjutnya Ibnul Hajar menjelaskan, mayoritas ulama, seperti Imam Ahmad dan lainnya, mentarjih bahwa waktu tersebut terdapat pada akhir waktu dari hari Jum’at. Di akhir ucapannya, Ibnul Hajar cenderung kepada pendapat Ibnul Qayim, yaitu pengabulan doa itu diharapkan juga  pada saat shalat. Sehingga kedua waktu tersebut merupakan waktu ijabah (pengabulan) doa, meskipun saat yang khusus itu ada di ujung hari setelah shalat shalat ‘Ashar.

Imam al Khaththabi rahimahullah, yang disebutkan dalamFath al Baari, juga menyimpulkan waktu istijabah tersebut ada dua: Pertama, pada waktu shalat. Kedua, satu waktu di sore hari ketika matahari mulai merendah untuk tenggelam.

Berikut ini uraian lebih rinci terhadap kedua pendapat tersebut:

Pendapat pertama : waktu istijabah itu sejak duduknya imam di atas mimbar sampai dengan berakhirnya shalat. Hujjah dari pendapat ini adalah hadits Abu Burdah bin Abi Musa al-’Asy’ari, dia bercerita: “Abdullah bin Umar pernah berkata kepadaku: ‘apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai satu waktu yang terdapat pada hari Jum’at?’ Aku (Abu Burdah) menjawab, “Ya, aku pernah mendengarnya berkata, aku pernah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ

“Saat itu berlangsung antara duduknya imam sampai selesainya shalat.” (HR. Muslim)

Namun, waktu istijabah ini tidak penuh sejak duduknya imam di mimbar sampai selesainya shalat. Dia datangnya kadang-kadang berdasarkan lafadz hadits, “yuqalliluhaa” (sangat sebentar).

Imam ash Shan’ani rahimahullah dalam Subul as Salam, menyebutkan keberadaannya terkadang di awal, tengah, atau di akhir. Misalnya diawali sejak dimulainya khutbah dan habis ketika selesainya shalat. (Subul as Salam: II/101)

Pendapat kedua : waktu ijabah berada di akhir waktu setelah ‘Ashar. Ibnul Qayyim al Jauziyah merajihkan pendapat ini. Beliau berkata, “yang ini merupakan pendapat yang paling rajih dari dua pendapat yang ada. Ia adalah pendapat Abdullah bin Salam, Abu Hurairah, Imam Ahmad, dan beberapa ulama selain mereka.” (Zaad al Ma’ad: I/390)

Hadits yang menunjukkan kesimpulan ini cukup banyak. Di antaranya hadits Jabir bin Abdillah radliyallah ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Hari Jum’at terdiri dari 12 waktu, di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang muslim pada saat itu memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah saat tersebut pada akhir waktu setelah ‘Ashar.” (HR. an Nasai dan Abu Dawud. Disahihkan oleh Ibnul Hajar dalam al Fath dan dishahihkan juga oleh al Albani dalam Shahih an Nasai dan Shahih Abu Dawud).

Hadits Abdullah bin Salam, dia bercerita: “aku berkata, ‘sesungguhnya kami mendapatkan di dalam Kitabullah bahwa pada hari Jum’at terdapat satu saat yang tidaklah seorang hamba mukmin bertepatan dengannya lalu berdoa memohon sesuatu kepada Allah, melainkan akan dipenuhi permintaannya.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammengisyaratkan dengan tangannya bahwa itu hanya sebagian saat. Kemudian Abdullah bin Salam bertanya; ‘kapan saat itu berlangsung?’ beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “saat itu berlangsung pada akhir waktu siang.” Setelah itu  Abdullah bertanya lagi, ‘bukankah saat itu bukan waktu shalat?’ beliau menjawab,
بَلَى إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ لَا يَحْبِسُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ فَهُوَ فِي الصَّلَاةِ

“Benar, sesungguhnya seorang hamba mukmin jika mengerjakan shalat kemudian duduk, tidak menahannya kecuali shalat, melainkan dia berada di dalam shalat.” (HR. Ibnu Majah. Syaikh al Albani menilainya hasan shahih).

Juga berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْتَمِسُوا السَّاعَةَ الَّتِي تُرْجَى فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ بَعْدَ الْعَصْرِ إِلَى غَيْبُوبَةِ الشَّمْسِ

“Carilah saat yang sangat diharapkan pada hari Jum’at, yaitu setelah ‘Ashar sampai tenggelamnya matahari.” (HR. at Tirmidzi; dinilai Hasan oleh al Albani di dalam Shahih at Tirmidzi dan Shahihh at Targhib).

Al-Hafidz Ibnul Hajar rahimahullah berkata: “diriwayatkan Sa’id bin Mansur dengan sanad shahih kepada Abu Salamah bin Abdirrahman, ada beberapa orang dari sahabat Nabishallallahu ‘alaihi wasallam berkumpul lalu saling menyebut satu saat yang terdapat pada hari Jum’at. Kemudian mereka berpisah tanpa berbeda pendapat bahwa saat tersebut berlangsung pada akhir waktu dari hari Jum’at.” (Fath al Baari :II/421 dan Zaad al Ma’ad oleh Ibnul Qayim I:391)

. . . Kemudian mereka berpisah tanpa berbeda pendapat bahwa saat tersebut berlangsung pada akhir waktu dari hari Jum’at. .

Ibnul Qayyim berkata, “diriwayatkan Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: ‘saat (mustajab) yang disebutkan ada pada hari Jum’at itu terletak di antara shalat ‘Ashar dan tenggelamnya matahari.’ Sa’id bin Jubair jika sudah melaksanakan shalat ‘Ashar dia tidak mengajak bicara seseorang pun hingga matahari terbenam. Demikian ini pendapat mayoritas ulama salaf, dan mayoritas hadits mengarah pada pendapat itu. Selanjutnya, pendapat lain menyatakan bahwa saat tersebut terdapat pada waktu shalat Jum’at. Adapun pendapat-pendapat lainnya tidak memiliki dalil.” (Zaad al Ma’ad: I/394)

Ibnul Qayyim juga mengatakan, “menurut saya, saat shalat merupakan waktu yang diharapkan pengabulan doa. Keduanya merupakan waktu pengabulan meskipun satu saat yang khusus itu di akhir waktu setelah shalat ‘Ashar. Itu merupakan saat tertentu dari hari Jum’at yang tidak akan mundur atau maju. Adapun saat ijabah pada waktu shalat, ia mengikuti waktu shalat itu sendiri sehingga bisa maju atau mundur. Karena ketika berkumpulnya kaum muslimin, shalat, ketundukan, dan munajat mereka kepada Allah memiliki pengaruh terhadap pengabulan (doa). Dengan demikian, saat pertemuan mereka merupakan saat yang diharap dikabulkannya doa. Dengan demikian itu, seluruh hadits berpadu antara yang satu dengan lainnya. . .” (Zaad al Ma’ad: I/394)

Lebih lanjut, Ibnul Qayyim berkata, “saat mustajab berlangsung pada akhir waktu setelah ‘Ashar yang diagungkan oleh seluruh pemeluk agama. Menurut Ahl Kitab, ia merupakan saat pengabulan. Inilah salah satu yang ingin mereka ganti dan merubahnya. Sebagian orang dari mereka yang telah beriman mengakui hal tersebut.” (Zaad al Ma’ad: I/396)

. . . Di dalamnya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim berdoa memohon sesuatu bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, yaitu setelah shalat ‘Ashar.

Pendapat ini juga yang dipilih oleh Syaikh Ibnu Bazzrahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh DR. Sa’id bin Ali al Qahthan dalam Shalatul Mukmin. Syaikh Ibnu Bazz berkata, “hal itu menunjukkan bahwa sudah sepantasnya bagi orang muslim untuk memberikan perhatian terhadap hari Jum’at. Sebab, di dalamnya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim berdoa memohon sesuatu bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, yaitu setelah shalat ‘Ashar. Mungkin saat ini berlangsung setelah duduknya imam di atas mimbar. Oleh karena itu, jika seseorang datang dan duduk setelah ‘Ashar menunggu shalat Maghrib seraya berdoa, doanya akan dikabulkan. Demikian halnya jika setelah naiknya imam ke atas mimbar, seseorang berdoa dalam sujud dan duduknya maka sudah pasti doanya akan dikabulkan.” (DR. Sa’id bin Ali bin Wahf al Qahthani, Ensiklopedi Shalat menurut al Qur’an dan as Sunnah : II/349)

Sekian dulu sob, sebelum keluar klik link dibawah ini ya

May 18, 2013

Ceramah Islam " Shalat Lima Waktu Merupakan Penebus Dosa "



Shalat hukumnya fardhu (wajib) bagi setiap orang yang beriman yang telah memenuhi syarat, baik laki-laki maupun perempuan. Terkecuali orang gila, anak kecil yang belum baligh, dan wanita yang sedang haid atau nifas.  Shalat juga merupakan tugas bagi setiap umat Islam yang ada di dunia ini.

Perintah Shalat sendiri merupakan perintah yang disampaikan langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini seperti yang dituangkan dalam Al-Quran. ”Maka dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103).

Begitu pentingnya, Rasul menegaskan kalau pembeda antara muslim dan kafir adalah Shalat. Hal ini seperti yang tertuang dalam hadistnya. Dari Jabir RA. Saya mendengar Rosulullah  SAW bersabda,” batasan antara seorang syirik dan kafir adalah  meninggalkan sholat,”(HR. Muslim).

Yang perlu kita ketahui, bahwa shalat sendiri merupakan perintah yang bebankan kepada umat Islam yang didalamnya banyak hikmah. Salah satunya cara untuk merontokakan dosa kita dari waktu-ke waktu. Dalam hadistnya Rosul Muhammad SAW mengatakan.  Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Rasulullah bersabda . ”Shalat lima waktu dan sholat Jum at hingga sholat Jum at berikutnya, adalah penebus dosa-dosa yang terjadi antara shalat –shalat  tersebut, selagi belum diselubungi dosa-dosa besar. Puasa Ramadhan hingga puasa Rhamadhan berikutnya merupakan penebus dosa diantara keduanya selama menjauhi dosa-dosa  besar,” (HR. Muslim).

Begitu indahnya Islam,  maka jagalah shalat kita hingga akhir hayat, sehingga Allah SWT ridha kepada kita dan kita dikategorikan sebagai orang soleh  serta dimasukkan ke dalam surganya Amin.

May 14, 2013

Ceramah Islam Tentang Kematian


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pertama-tama marilah kita panjatkan rasa syukur kita kepada Allah SWT, karena atas kehendak-Nya kita masih dapat berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat wal’afiat. Shalawat dan salam kita panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadirin rahimakumullah,
Kematian adalah suatu kata yang tidak asing  ditelinga kita, akan tetapi dapat menggetarkan hati setiap insan yang bernyawa, Mengapa? Karna kematian merupakan suatu keniscayaan  yang akan dialami oleh setiap makhluk yang bernyawa. Entah dia seorang kaya atau seorang yang miskin, entah dia seorang yang muda atau yang tua, entah dia seorang pejabat tinggi maupun rakyat kecil. Pasti ia akan mengalami kematian.

Berkenaan dengan ini, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur an surat Ali-Imran ayat 185 yang artinya:" Sesungguhnya setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian dan sesungguhnya semua amalan akan disempurnakan diakhirat nanti ". Berkenaan dengan ayat tersebut, jelas sekali bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian.

Ada suatu riwayat, suatu ketika Rasul SAW ditanya oleh salah seorang sahabat:" Ya Rasulullah ketika engkau telah tiada maka kepada siapa lagi hamba meminta nasehat?. Rasul SAW menjawab: "Wahai sahabat sesungguhnya aku telah meninggalkan 2 nasehat kepada kamu; Nasehat yang pertama adalah nasehat yang berbicara dan nasehat yang kedua adalah nasehat yang diam". Lalu sahabat kemudian bertanya lagi kepada Rasul Saw: " Ya Rasulullah apakah nasehat Berbicara itu dan apakah nasehat yang diam itu ya Rasul". Rasulullah kemudian menjawab:" Wahai sahabatku, nasehat yang berbicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu adalah kematian ".
 
Rasulullah SAW pernah ditanya oleh salah seorang sahabat, "Ya Rasulullah siapakah orang yang paling berakal dan siapakah orang yang paling bijaksana?". Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang paling berakal adalah orang yang paling banyak mengingat kematian. Sementara orang yang paling bijaksana adalah orang yang paling baik persiapannya. Dia akan mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat.”

Adapun hikmah dari adanya kematian adalah;
1. Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga
Tak ada satu  buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya. Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, "Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)."
   
2. Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa
Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.
   
3. Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa
Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia, Kaya atau miskin, Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu. Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa.
   
4. Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara
Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuahkhayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini. Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.
   
5. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga
Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.

Hadirin yang dirahmati Allah, Ingatlah kematian itu begitu dekat dan sangatlah dekat. Maka dari itu saya mengingatkan kepada seluruh hadirn marilah kita jadikan kematian sebagai guru terbaik kita agar kelak datang waktunya kita dipanggil kita telah siap untuk menghadapnya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Sekian dulu ceramah saya kali ini, sebelum keluar klik link dibawah ini ya